Kompetisi sepak bola antarklub di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dalam dua tahun terakhir ini vakum, meski di wilayah itu telah memiliki lapangan stadion yang memadai.
Menurut pengamat sepak bola Abdul Rofik di Bangkalan, Kamis, vakumnya kegiatan pertandingan sepak bola antarklub itu akan berpengaruh terhadap minat para olahragawan dengan mengembangkan potensi di dunia sepak bola.
"Sudah dua tahun terakhir ini pertandingan antarklub sepak bola di Kabupaten Bangkalan ini vakum. Jika tetap dibiarkan, maka saya khawatir justru pecinta sepak bola akan beralih ke jenis olahraga lain," kata Abdul.
Seharusnya, sambung dia, kompetisi antarklub harus tetap dilakukan, bahkan kalau bisa ditingkatkan agar potensi atlet bisa tersalurkan.
Menurut Rofik, pihaknya juga tidak menutup mata atas torehan prestasi yang diraih sepak bola Bangkalan, baik di tingkat regional maupun nasional. Namun, seharusnya pengcab PSSI Bangkalan tidak mengabaikan kewajibannya untuk menggelar kompetisi antarklub.
"Sebaiknya disela-sela jeda kompetisi nasional, pengurus pengcab PSSI Bangkalan menggelar kompetisi antarklub anggotanya. Sehingga gairah sepak bola di masyarakat tetap tinggi," ucapnya.
Lebih lanjut Rofik menyatakan, vakumnya kegiatan pengcab PSSI Bangkalan selama dua tahun karena tidak menggelar kompetisi antarklub, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif. Sebab akan banyak atlet sepak bola yang lari ke daerah lain.
"Atau bisa saja memilih jenis olahraga lain, seperti futsal. Apa gunanya punya stadion megah, kalau pengurus PSSI daerah malas menggelar kompetisi antarklub. Ini sangat ironi dan perlu ada terobosan baru biar sepak bola kembali populer di masyarakat," ujarnya.
Rofik menambahkan, tidak digelarnya kompetisi antarklub disebabkan dua faktor. Pertama dana pembinaan terkonsentrasi pada kompetisi nasional yang cukup besar. Sedangkan alokasi dana dari APBD untuk olahraga belum memadai.
"Idealnya dana yang dikucurkan dari APBD sebesar Rp3 sampai 4 miliar. Namun, kenyataannya anggaran yang dialokasikan senilai Rp1,3 miliar," ucap pengurus manajemen Persik Kediri ini.
Faktor kedua, sambung Rofik, Pengcab PSSI Bangkalan belum mempunyai kerangka kerja yang terarah, terutama iktikat baik untuk menggelar kompetisi antarklub anggotanya.
"Sepengetahuan kami, pengurus klub terakhir bertemu pengcab PSSI saat Muscablub, selebihnya berlalu begitu saja. Dan hingga kini, kami masih belum mendengar PSSI Bangkalan akan menggelar kompetisi antarklub," paparnya. [ant]
Menurut pengamat sepak bola Abdul Rofik di Bangkalan, Kamis, vakumnya kegiatan pertandingan sepak bola antarklub itu akan berpengaruh terhadap minat para olahragawan dengan mengembangkan potensi di dunia sepak bola.
"Sudah dua tahun terakhir ini pertandingan antarklub sepak bola di Kabupaten Bangkalan ini vakum. Jika tetap dibiarkan, maka saya khawatir justru pecinta sepak bola akan beralih ke jenis olahraga lain," kata Abdul.
Seharusnya, sambung dia, kompetisi antarklub harus tetap dilakukan, bahkan kalau bisa ditingkatkan agar potensi atlet bisa tersalurkan.
Menurut Rofik, pihaknya juga tidak menutup mata atas torehan prestasi yang diraih sepak bola Bangkalan, baik di tingkat regional maupun nasional. Namun, seharusnya pengcab PSSI Bangkalan tidak mengabaikan kewajibannya untuk menggelar kompetisi antarklub.
"Sebaiknya disela-sela jeda kompetisi nasional, pengurus pengcab PSSI Bangkalan menggelar kompetisi antarklub anggotanya. Sehingga gairah sepak bola di masyarakat tetap tinggi," ucapnya.
Lebih lanjut Rofik menyatakan, vakumnya kegiatan pengcab PSSI Bangkalan selama dua tahun karena tidak menggelar kompetisi antarklub, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif. Sebab akan banyak atlet sepak bola yang lari ke daerah lain.
"Atau bisa saja memilih jenis olahraga lain, seperti futsal. Apa gunanya punya stadion megah, kalau pengurus PSSI daerah malas menggelar kompetisi antarklub. Ini sangat ironi dan perlu ada terobosan baru biar sepak bola kembali populer di masyarakat," ujarnya.
Rofik menambahkan, tidak digelarnya kompetisi antarklub disebabkan dua faktor. Pertama dana pembinaan terkonsentrasi pada kompetisi nasional yang cukup besar. Sedangkan alokasi dana dari APBD untuk olahraga belum memadai.
"Idealnya dana yang dikucurkan dari APBD sebesar Rp3 sampai 4 miliar. Namun, kenyataannya anggaran yang dialokasikan senilai Rp1,3 miliar," ucap pengurus manajemen Persik Kediri ini.
Faktor kedua, sambung Rofik, Pengcab PSSI Bangkalan belum mempunyai kerangka kerja yang terarah, terutama iktikat baik untuk menggelar kompetisi antarklub anggotanya.
"Sepengetahuan kami, pengurus klub terakhir bertemu pengcab PSSI saat Muscablub, selebihnya berlalu begitu saja. Dan hingga kini, kami masih belum mendengar PSSI Bangkalan akan menggelar kompetisi antarklub," paparnya. [ant]

